“Jangan Kebiri Guru!” Kritik Tajam Adrian Purnama untuk Arah Pendidikan

 



KUNINGAN – Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kuningan, Adrian Purnama, melontarkan pernyataan tegas terkait masa depan pendidikan nasional. Ia menegaskan, bangsa ini berisiko menghadapi masa depan yang suram apabila peran guru terus diabaikan. Dalam pernyataannya, Adrian bahkan mengingatkan agar kebijakan pendidikan tidak “mengebiri” peran guru, serta menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus tetap berbasis di sekolah.

Menurut Adrian, guru merupakan pilar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus penjaga pembentukan karakter generasi muda. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan, ruang profesional, dan peran strategis guru tidak boleh dipandang sebagai isu administratif semata, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan negara.

“Jangan kebiri guru. Masa depan bangsa ditentukan dari bagaimana negara memperlakukan pendidiknya hari ini,” tegasnya.

Ia menjelaskan, pengabaian terhadap guru akan berdampak langsung pada menurunnya kualitas pendidikan. Guru yang tidak memperoleh penghargaan layak, baik secara finansial maupun profesional, berpotensi kehilangan motivasi mengajar. Kondisi tersebut, lanjutnya, bukan hanya memengaruhi proses pembelajaran di kelas, tetapi juga menghambat lahirnya inovasi pendidikan.

Adrian juga menyoroti ancaman berkurangnya minat generasi muda untuk menekuni profesi guru apabila kesejahteraan dan jenjang karier tidak jelas. Situasi ini dinilai berbahaya karena dapat memicu krisis tenaga pendidik berkualitas di masa depan.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa kualitas pendidikan yang menurun akan berdampak langsung pada daya saing generasi muda. Lulusan sekolah berisiko tidak memiliki kompetensi memadai untuk menghadapi persaingan global, sekaligus rentan mengalami krisis karakter dan nilai moral.

“Guru bukan hanya mengajar ilmu, tetapi membentuk watak bangsa. Jika peran itu melemah, maka yang terancam bukan hanya pendidikan, tetapi masa depan sosial kita,” ujarnya.

Adrian menilai ketimpangan kualitas pendidikan juga berpotensi memperlebar kesenjangan sosial, terutama antara masyarakat yang mampu mengakses pendidikan berkualitas dan yang tidak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berdampak pada produktivitas nasional, stagnasi inovasi, hingga meningkatnya persoalan sosial di masyarakat.

Ia menegaskan, negara-negara maju selalu menempatkan pendidikan dan guru sebagai prioritas utama pembangunan. Karena itu, kebijakan pendidikan harus memastikan guru tetap menjadi pusat ekosistem pembelajaran, termasuk dalam pelaksanaan program-program strategis pemerintah seperti MBG.

“Mengabaikan guru sama saja mengabaikan investasi paling penting bagi masa depan bangsa,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa arah pembangunan pendidikan tidak hanya soal program, tetapi juga tentang bagaimana negara menjaga martabat dan peran strategis para pendidik sebagai fondasi kemajuan bangsa. (Han)