Ketika Hardiknas Tak Lagi Sekadar Upacara, Tapi Cermin Nurani Pendidikan


KUNINGAN — Tidak semua orang memaknai 2 Mei sebagai sekadar seremoni. Bagi Surya, S.Pd., M.M., Hari Pendidikan Nasional justru menjadi ruang sunyi untuk menimbang kembali arah dan makna pendidikan—sebuah refleksi panjang yang tak pernah benar-benar usai.

Puluhan tahun berdiri sebagai kepala sekolah membentuk cara pandangnya. Ia masih mengingat pagi-pagi Hardiknas di halaman sekolah: barisan siswa dengan seragam terbaik, sepatu yang kadang kebesaran, dasi yang belum rapi—namun menyimpan satu hal yang sama, harapan.

“Di mata saya, mereka sedang belajar menjadi Indonesia,” ujarnya.

Kini, amanah sebagai Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan memperluas cakrawalanya. Dari satu sekolah menjadi ratusan, dari puluhan siswa menjadi ribuan cerita. Namun satu keyakinan tetap tak berubah: pendidikan bukan sekadar kurikulum, bukan angka rapor, dan bukan pula formalitas kelulusan.

Pendidikan, bagi Surya, adalah tentang manusia.

Tentang guru yang tetap tersenyum di balik lelah yang tak selalu terlihat. Tentang kepala sekolah yang memikirkan hal-hal mendasar seperti listrik yang kerap padam. Hingga tentang anak-anak yang tetap berangkat sekolah dengan mimpi besar meski fasilitas terbatas.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan di Kabupaten Kuningan—dari keterbatasan sarana hingga kesenjangan akses—ia justru melihat esensi pendidikan diuji. Bukan pada kondisi ideal, melainkan pada kesediaan untuk tetap hadir dan bertahan.

“Apakah kita tetap mengajar dengan hati, meski keadaan belum sempurna?” menjadi pertanyaan yang terus ia gaungkan.

Surya menegaskan, nilai-nilai yang diwariskan Ki Hajar Dewantara tidak boleh berhenti sebagai slogan tahunan. Prinsip Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani harus hidup dalam praktik—di ruang kelas, ruang guru, hingga ruang kebijakan.

Sebagai mantan kepala sekolah, ia memahami perubahan besar kerap lahir dari langkah kecil: satu guru yang sabar, satu siswa yang akhirnya bisa membaca, satu sekolah yang terus berbenah tanpa lelah. Kini, sebagai pejabat, ia membawa pengalaman itu dalam setiap kebijakan.

“Keputusan tidak boleh jauh dari realitas sekolah. Harus terasa manfaatnya bagi guru dan anak-anak,” tegasnya.

Hardiknas, menurutnya, bukan sekadar peringatan tahunan. Ia adalah pengingat bahwa pendidikan adalah perjalanan lintas generasi yang tidak pernah selesai—bukan proyek jangka pendek yang bisa dituntaskan dalam hitungan tahun.

Karena itu, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk kembali pada hal paling mendasar: merawat pendidikan dengan hati.

Menjaga guru sebagai pilar utama, bukan sekadar pelaksana administratif. Dan memastikan setiap anak—baik di desa maupun kota—memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi besar.

“Bangsa ini tidak dibangun oleh gedung-gedung tinggi,” ujarnya, “tetapi oleh ruang kelas yang hidup, guru yang ikhlas, dan anak-anak yang tidak berhenti bertanya tentang masa depan.”

Di tengah gemuruh seremoni, suara-suara seperti inilah yang kerap luput terdengar. Namun justru dari sanalah arah pendidikan sesungguhnya sedang diperjuangkan—diam-diam, tetapi mendalam. (red)