Jalan Hancur, Pemerintah Cuek: Cikal Bakal Kuningan Yang Di Anak Tirikan
KUNINGAN – Kondisi jalan Ramajaksa, Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, kian memprihatinkan. Jalan utama yang setiap hari dilintasi warga itu rusak parah dan berlubang, namun hingga kini tak kunjung tersentuh perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Merasa lelah tak di perhatikan pemerintah, warga akhirnya memilih bergerak sendiri. Kamis malam (08/01/2026), masyarakat Winduherang secara swadaya menggelar gotong royong menambal jalan rusak dengan dana hasil udunan dan tenaga sukarela.
Aksi ini menjadi simbol nyata kekecewaan warga atas sikap pemerintah yang dinilai abai terhadap keselamatan masyarakat. Jalan yang dibiarkan rusak bertahun-tahun tersebut tak hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga membahayakan pengendara, terutama saat hujan dan malam hari.
Penggagas udunan, Abah Ucen (70), menuturkan bahwa langkah ini diambil karena warga sudah terlalu lama menunggu tanpa kepastian.
“Akibat terlalu lama menunggu, akhirnya kami yang bergerak. Daripada terus berharap, lebih baik kami berbuat demi keselamatan bersama,” ujarnya.
Ia menyebut, gotong royong ini melibatkan kelompok remaja kolot (remako), gabungan warga RT 03 dan RT 09, yang dengan sukarela menyumbang material dan tenaga untuk menutup lubang-lubang di jalur utama Kelurahan Winduherang.
“Tak ada salahnya kan? Demi keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Kami lakukan ini tanpa pamrih, karena menunggu bantuan dari ‘langit’ tak kunjung datang,” tambahnya dengan nada getir.
Ironisnya, menurut Abah Ucen, Winduherang kerap disebut sebagai titik awal wilayah Kuningan. Namun realitas di lapangan justru berbanding terbalik.
“Katanya titik awal Kuningan, tapi kok seperti kahieuman bangkong. Jalan rusak jelas terlihat, bahkan dilewati setiap hari, tapi ya begitu saja, tak ada perubahan,” sindirnya.
Abah Ucen pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada warga yang rela menyisihkan rezeki serta tenaga. Seluruh proses gotong royong dilakukan murni atas dasar kepedulian, tanpa upah sepeser pun.
Aksi ini sekaligus menjadi pesan keras bagi pemerintah daerah: ketika negara absen, rakyat terpaksa turun tangan. Namun pertanyaannya, sampai kapan warga harus terus menambal kelalaian penguasa dengan keringat mereka sendiri? (/red)

