Tak Sekadar Berbagi: PERTUNI–234SC Tegaskan Makna Solidaritas di Bulan Ramadan
KUNINGAN – Ramadan kembali menjadi panggung bagi lahirnya kepedulian yang nyata, bukan sekadar retorika. DPC PERTUNI Kabupaten Kuningan bersama DPC 234SC Kabupaten Kuningan membuktikan bahwa solidaritas sosial bisa diwujudkan melalui aksi konkret yang menyentuh langsung masyarakat. Mengusung tema “Merajut Solidaritas, Menuju Generasi yang Inklusif”, keduanya menggelar santunan anak yatim dan pembagian takjil pada Sabtu (14/3/2026).
Kegiatan ini tidak hanya berbicara soal berbagi, tetapi juga tentang menghadirkan harapan di tengah keterbatasan. Santunan yang diberikan kepada anak-anak yatim menjadi simbol bahwa kepedulian masih hidup dan terus dirawat. Lebih dari itu, terselip pesan kuat tentang pentingnya kebersamaan dan dukungan moral bagi mereka yang membutuhkan.
Di saat yang sama, ratusan paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar menjelang waktu berbuka puasa. Aksi ini menjadi penegasan bahwa Ramadan bukan hanya ruang ibadah personal, tetapi juga momentum memperluas empati dan memperkuat gotong royong di tengah kehidupan sosial.
Ketua DPC PERTUNI Kabupaten Kuningan, Budi Hidayah, S.Sos, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud komitmen organisasi untuk terus hadir di tengah masyarakat dengan membawa manfaat nyata.
“Kegiatan santunan anak yatim dan berbagi takjil ini adalah bentuk kepedulian sosial yang harus terus dijaga. Ramadan mengajarkan keikhlasan, kebersamaan, dan pentingnya berbagi, terutama kepada anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang,” ujarnya.
Senada, Ketua DPC 234SC Kabupaten Kuningan, Rangga Priyadinata, S.E., M.Si., menilai kolaborasi lintas organisasi ini sebagai langkah strategis dalam membangun kekuatan sosial yang lebih luas.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa semangat persaudaraan dapat diwujudkan melalui aksi nyata. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk terus menumbuhkan budaya berbagi dan gotong royong,” katanya.
Kolaborasi ini menjadi lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia menjelma sebagai energi kolektif yang memperkuat sinergi antarorganisasi dan komunitas di daerah. Dari kebersamaan tersebut, tumbuh harapan akan lahirnya masyarakat yang lebih inklusif, peduli, dan berdaya.
Panitia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat—mulai dari pengurus, anggota, relawan, hingga para donatur—yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini.
Pada akhirnya, kegiatan ini meninggalkan pesan yang tak bisa diabaikan: solidaritas tidak cukup diucapkan, tetapi harus diwujudkan. Dan di Kuningan, Ramadan tahun ini kembali membuktikan—kepedulian masih punya tempat, dan kemanusiaan masih menjadi kekuatan utama. (Han)

