Miniatur Indonesia di Pesona Ancaran: Berbeda Keyakinan, Satu Kebersamaan

 


KUNINGAN – Suasana sore di Perumahan Pesona Ancaran, Kabupaten Kuningan, terasa berbeda dari hari-hari biasa. Menjelang waktu berbuka puasa, ratusan paket takjil dibagikan kepada para pengendara dan masyarakat yang melintas di sekitar lingkungan tersebut. Kegiatan itu kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama warga dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.

Namun lebih dari sekadar tradisi Ramadan, kegiatan ini menjadi cermin nyata nilai kebersamaan dan toleransi yang hidup di tengah masyarakat.

Ketua RT 35 Pesona Ancaran, Rais Wandi, menyebut lingkungannya sebagai sebuah “miniatur Indonesia”. Menurutnya, keberagaman yang ada di tengah warga justru menjadi kekuatan utama dalam membangun harmoni kehidupan bertetangga.

“Di lingkungan ini warga berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari perbedaan agama, adat istiadat hingga kebiasaan sehari-hari. Tapi justru dari perbedaan itu kita belajar untuk saling menghargai dan memperkuat kebersamaan,” ujar Rais Wandi dalam sambutannya.

Semangat gotong royong terlihat jelas sejak persiapan kegiatan. Warga tanpa sekat bahu-membahu menyiapkan hidangan, mengemas takjil, hingga mengatur jalannya pembagian kepada masyarakat. Perbedaan keyakinan maupun asal-usul tidak menjadi penghalang untuk bersatu dalam semangat kemanusiaan.

Momentum berbagi ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi di antara warga yang sehari-hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjaga kerukunan serta menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis bagi seluruh keluarga yang tinggal di Pesona Ancaran.

Di tengah suasana kebersamaan itu, Rais Wandi turut menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi aktif dan memberikan kontribusi dalam terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada semua warga yang sudah terlibat dan berpartisipasi. Tanpa kebersamaan dan kepedulian dari seluruh warga, kegiatan ini tidak mungkin terlaksana dengan baik,” ujarnya.

Melalui momen sederhana berbagi takjil dan buka puasa bersama, warga Pesona Ancaran membuktikan bahwa harmoni tidak lahir dari keseragaman. Ia tumbuh dari kepedulian, toleransi, dan kemauan untuk saling melengkapi—sebuah potret kecil Indonesia yang hidup dalam satu lingkungan. (Han)