Curug Tenjo Menanti Penataan, PAM Kuningan Diminta Duduk Bersama Soal Jalur Pipa

KUNINGAN - Pegiat lingkungan Kabupaten Kuningan, Agi Haris Nurzaman, turut menyoroti upaya pelestarian Curug Tenjo yang belakangan mulai kembali digaungkan masyarakat Kelurahan Winduherang.

Ia mengaku beberapa hari lalu ikut menyusuri langsung kawasan Curug Tenjo bersama masyarakat dan panitia napak tilas. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki panorama alam yang masih sangat asri, alami, dan menyimpan potensi besar sebagai kawasan wisata sejarah berbasis lingkungan.

“Tempatnya memang sangat indah. Nuansa alamnya masih terjaga dan punya nilai sejarah yang kuat. Tinggal bagaimana sekarang dilakukan pembenahan dan penataan secara serius agar potensinya benar-benar terlihat,” ujarnya kepada infokuningan24, Sabtu (16/05/2026) 

Menurutnya, langkah tersebut menjadi pengingat penting agar masyarakat tidak melupakan jejak sejarah leluhur Kuningan.

“Ini langkah yang sangat baik. Curug Tenjo bukan sekadar tempat wisata alam, tetapi memiliki nilai sejarah besar terhadap lahirnya Kabupaten Kuningan. Sejarah seperti ini harus dijaga, dirawat, dan dilestarikan. Jangan sampai generasi hari ini melupakan akar sejarahnya sendiri,” ujarnya.

Agi mengungkapkan, dirinya telah berdiskusi langsung dengan panitia dan tokoh masyarakat yang tengah mendorong penataan kawasan Curug Tenjo. Dalam waktu dekat, kata dia, masyarakat akan mulai melakukan pembukaan dan pembersihan jalur sepanjang kurang lebih satu kilometer menuju lokasi curug.

Selain itu, panitia juga berencana membangun gapura di pintu masuk kawasan sebagai penanda sekaligus pengenalan kepada masyarakat bahwa Curug Tenjo merupakan kawasan yang sarat nilai sejarah.

Namun di balik semangat tersebut, Agi menilai masih terdapat sejumlah persoalan serius yang tidak bisa dianggap sepele, terutama terkait keberadaan bentangan pipa milik PAM Kuningan yang melintasi jalur menuju Curug Tenjo.

Menurutnya, keberadaan pipa berukuran besar itu cukup mengganggu estetika kawasan yang sedang didorong menjadi situs sejarah dan wisata berbasis kearifan lokal.

“PAM Kuningan harus hadir memberikan support system. Jangan hanya melihat ini sebagai persoalan teknis biasa. Curug Tenjo punya keterkaitan langsung dengan sejarah besar Kuningan. Ketika jalur menuju kawasan dipenuhi bentangan pipa besar, tentu secara visual sangat mengganggu,” tegasnya.

Ia mendorong adanya koordinasi lintas sektor antara masyarakat, pemerintah daerah, PAM Kuningan, hingga pihak terkait lainnya agar persoalan tersebut dapat diselesaikan tanpa merugikan pihak mana pun.

“Bisa didiskusikan bersama, apakah jalurnya dialihkan, ditanam, atau dibuat penataan khusus. Yang penting kawasan ini tetap terjaga tanpa menghilangkan fungsi pelayanan air bagi masyarakat,” katanya.

Agi juga menegaskan bahwa Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, harus ikut terlibat dalam proses penataan dan pelestarian kawasan Curug Tenjo. Mengingat secara wilayah kawasan tersebut berbatasan langsung dengan Cipari dan memiliki keterkaitan lingkungan yang tidak bisa dipisahkan.

“Ini bukan hanya tanggung jawab Winduherang semata. Kelurahan Cipari juga harus turut terlibat, karena kawasan ini saling berkaitan. Penanganannya harus bersama-sama,” ujarnya.

Tak hanya itu, Agi juga menyoroti persoalan lingkungan lain di kawasan Curug Tenjo, yakni aliran limbah kotoran sapi dari wilayah Cipari yang disebut mengalir langsung ke jalur air curug.

Menurutnya, persoalan tersebut harus segera mendapat perhatian serius karena berpotensi merusak kualitas lingkungan dan mengganggu kelestarian sumber mata air alami yang selama ini dimanfaatkan masyarakat.

“Ini persoalan yang harus dipikirkan matang bersama. Jangan sampai kawasan yang punya nilai sejarah besar justru tercemar. Koperasi maupun pihak yang menaungi peternak harus ikut bertanggung jawab mencari solusi, apakah melalui pembangunan IPAL atau langkah lain,” ujarnya.

Selain pipa PAM, Agi juga menyinggung keberadaan jaringan pipa pengelola air lokal yang membentang di area kawasan Curug Tenjo dan dinilai perlu ditata secara lebih baik.

Ia menegaskan, seluruh persoalan tersebut membutuhkan komunikasi dan koordinasi lintas sektor agar pengembangan Curug Tenjo tidak berjalan setengah hati.

“Pemerintah daerah harus hadir. Karena Curug Tenjo bukan hanya milik Winduherang, tetapi bagian dari identitas sejarah Kabupaten Kuningan,” pungkasnya. (Han)