Babarit Winduherang Jangan Kehilangan Ruh Budayanya
KUNINGAN - Tradisi Babarit bukan sekadar agenda tahunan masyarakat Winduherang. Lebih dari itu, ia merupakan warisan sejarah, identitas budaya, sekaligus simbol rasa syukur yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Babarit bukan hanya milik satu generasi, melainkan milik seluruh masyarakat Winduherang, baik yang hidup hari ini maupun generasi yang akan datang.
Karena itulah, saya menyambut baik kembali digelarnya Babarit Winduherang tahun 2026. Namun, di saat yang sama, saya juga tidak bisa menutupi rasa kecewa ketika melihat rundown kegiatan yang telah beredar di masyarakat.
Jika dibandingkan dengan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, khususnya Babarit 2025, rangkaian kegiatan tahun ini tampak mengalami penyederhanaan yang cukup signifikan. Berbagai prosesi adat yang selama ini menjadi ciri khas dan daya tarik Babarit seolah menghilang satu per satu. Penyambutan tamu menggunakan Tari Kawin Cai, prosesi budaya, hingga tradisi makan bersama yang selama ini menjadi ikon kebersamaan masyarakat, tidak lagi terlihat dalam susunan acara.
Padahal, justru rangkaian-rangkaian itulah yang selama ini memberi makna dan ruh bagi Babarit. Tanpa itu, kekhawatiran saya muncul bahwa Babarit perlahan berubah hanya menjadi kegiatan seremonial yang kehilangan identitas budayanya.
Yang paling saya sesalkan adalah hilangnya tradisi makan bersama di sepanjang jalan yang selama ini menjadi simbol persaudaraan masyarakat Winduherang. Tradisi tersebut bukan sekadar makan bersama. Di sanalah seluruh warga duduk sejajar tanpa membedakan status sosial, profesi, jabatan, maupun latar belakang. Semua berkumpul dalam satu hamparan jalan sebagai bentuk rasa syukur, gotong royong, kekompakan, dan persatuan.
Tradisi seperti ini tidak mudah ditemukan di banyak tempat. Justru inilah kekayaan budaya yang seharusnya dipertahankan.
Belakangan saya juga mendengar informasi yang berkembang di masyarakat bahwa penyederhanaan beberapa rangkaian kegiatan diduga berkaitan dengan adanya anggapan bahwa sebagian prosesi budaya dianggap bertentangan dengan ajaran agama atau bahkan divonis sebagai bentuk kemusyrikan.
Saya tentu tidak ingin menghakimi siapa pun ataupun menyimpulkan bahwa informasi tersebut benar. Namun jika memang hal itu menjadi salah satu pertimbangan, maka menurut saya kita perlu duduk bersama dan melihat persoalan ini dengan lebih bijaksana.
Saya sangat menyayangkan apabila sebuah warisan budaya yang telah dijaga selama ratusan tahun harus dipersempit hanya karena adanya perbedaan cara pandang yang belum didiskusikan secara terbuka.
Perlu dipahami bersama bahwa budaya dan agama memiliki ruangnya masing-masing.
Saya sendiri seorang muslim. Saya memahami pentingnya menjaga akidah dan menjauhi segala bentuk kemusyrikan. Namun di sisi lain, saya juga mencintai budaya. Bagi saya, mencintai budaya bukan berarti meninggalkan agama. Begitu pula menjalankan agama tidak harus dimaknai dengan menghapus seluruh warisan budaya yang diwariskan para leluhur.
Banyak prosesi budaya lahir sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah, rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan terhadap alam, serta media mempererat silaturahmi masyarakat. Memahami simbol-simbol budaya tentu membutuhkan kajian yang utuh, bukan penilaian sepintas.
Karena itu saya berharap kita tidak terlalu mudah memberikan label "musyrik", "haram", atau istilah-istilah lain terhadap sesuatu yang belum dipahami secara menyeluruh. Mari melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas. Jangan sampai kita terjebak dalam cara berpikir yang sempit sehingga tanpa sadar justru mengikis identitas budaya yang menjadi kebanggaan daerah kita sendiri.
Ironisnya, di saat banyak desa dan daerah lain berlomba-lomba mengangkat tradisi lokal agar dikenal lebih luas, bahkan berupaya menjadikannya sebagai agenda budaya unggulan Kabupaten Kuningan, Winduherang justru seolah berjalan ke arah yang berlawanan.
Padahal Winduherang memiliki nilai sejarah yang sangat besar. Dalam berbagai catatan sejarah lokal, Winduherang dikenal sebagai salah satu cikal bakal lahirnya Kuningan. Dengan posisi historis sebesar itu, semestinya Babarit terus diperkuat, diperkaya, dan dipromosikan sebagai ikon budaya yang membanggakan, bukan justru dipersempit ruang ekspresinya.
Melihat rundown tahun ini, muncul pertanyaan yang menurut saya sangat wajar.
Jika setiap tahun rangkaian kegiatan terus dikurangi, bagaimana wajah Babarit beberapa tahun ke depan?
Apakah pada tahun 2027 akan ada lagi prosesi budaya yang dihilangkan?
Apakah suatu saat nanti Babarit hanya akan menyisakan sambutan dan doa, sementara unsur budaya yang menjadi ruhnya perlahan menghilang?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan saya sampaikan untuk menuduh siapa pun. Justru sebaliknya, ini adalah kegelisahan seorang warga yang mencintai sejarah dan budayanya.
Karena budaya yang hilang tidak mudah untuk dikembalikan. Sekali sebuah tradisi terputus, generasi berikutnya mungkin hanya akan mengenalnya dari cerita dan foto-foto lama, bukan lagi melalui pengalaman nyata.
Kita harus ingat bahwa keberadaan kita hari ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah.
Kita ada karena sejarah.
Indonesia berdiri karena sejarah.
Dan Winduherang dikenal hingga hari ini juga karena sejarah dan budayanya.
Sejarah dan budaya tidak pernah menuntut kita untuk mengikuti seluruh kebiasaan masyarakat zaman dahulu. Yang menjadi tanggung jawab kita hanyalah menjaga, merawat, dan melestarikan warisan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman. Itulah bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus hadiah terbaik bagi generasi yang akan datang.
Saya berharap seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, budayawan, akademisi, pemerintah, dan warga dapat duduk bersama apabila memang terdapat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan Babarit. Ruang dialog jauh lebih bijaksana daripada saling memberi stigma atau memvonis sepihak.
Pada akhirnya, kritik ini bukan ditujukan untuk menjatuhkan siapa pun. Kritik ini lahir dari rasa cinta kepada Winduherang. Saya ingin melihat Babarit tetap hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan masyarakat, bukan justru kehilangan ruh budayanya sedikit demi sedikit.
Apabila ada pihak yang memiliki pandangan berbeda dengan apa yang saya sampaikan, saya sangat terbuka untuk berdiskusi secara sehat. Mari saling bertukar argumentasi dengan kepala dingin, saling mendengar, dan saling menghormati.
Karena budaya akan tetap hidup bukan karena kita selalu sepakat, melainkan karena kita memiliki kepedulian untuk menjaganya bersama. (red)
Handy Ramadhan
Warga Kelurahan Winduherang
