Bukan Sekadar Makan Bersama, Warga 515 Kirim Pesan Keras: Jangan Biarkan Tradisi Winduherang Punah


KUNINGAN – Di saat rangkaian tradisi Babarit Hari Jadi Kelurahan Winduherang ke-545 tahun ini tidak lagi dipusatkan seperti tahun-tahun sebelumnya, semangat masyarakat untuk menjaga warisan budaya ternyata tak ikut padam. Warga gabungan RT 005 dan RT 015 yang dikenal dengan sebutan lingkungan "515" justru memilih menggelar makan bersama secara swadaya di jalan gang yang menghubungkan kedua RT tersebut, Jumat (10/07/2026) malam.

Suasana sederhana namun penuh kehangatan itu menjadi bukti bahwa kebersamaan tidak selalu harus menunggu acara besar. Beralaskan daun pisang yang memanjang di tengah jalan gang, puluhan warga duduk berhadap-hadapan menikmati hidangan bersama sebagai wujud rasa syukur atas Hari Jadi Winduherang ke-545 sekaligus upaya mempertahankan nilai-nilai gotong royong yang telah diwariskan turun-temurun.

Selama ini, makan bersama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian tradisi Babarit Winduherang yang biasanya dipusatkan di Jalan Ramajaksa. Namun tahun ini, kegiatan tersebut ditiadakan oleh panitia. Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan langkah warga lingkungan 515 untuk tetap merawat tradisi di lingkungannya sendiri.

Perwakilan warga RT 015, Ari Setiyawan, mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk kepedulian masyarakat terhadap tradisi yang dinilainya mulai mengalami pergeseran.

"Kami mengadakan acara sederhana di lingkungan kami sendiri sebagai rasa syukur di Hari Jadi Winduherang ke-545. Kami melihat dari tahun ke tahun pelaksanaan babarit semakin berubah, bahkan adat istiadat yang diwariskan para leluhur perlahan mulai hilang," ujarnya.

Ari berharap Hari Jadi Winduherang menjadi momentum lahirnya pemimpin yang mampu mengembalikan marwah tradisi babarit seperti dahulu, termasuk menghidupkan kembali budaya Golewang yang selama ini menjadi identitas masyarakat Winduherang.

Selain itu, ia juga berharap adanya pemimpin yang mampu membawa kemajuan di berbagai sektor, mulai dari pengembangan UMKM, pelestarian cagar budaya hingga pembangunan infrastruktur jalan.

Sementara itu, salah seorang warga RT 005, Putri Regina Pramudya, mengungkapkan bahwa tradisi makan bersama di lingkungannya memang telah menjadi agenda rutin, tidak hanya saat perayaan Babarit.

"Alhamdulillah di gang kami kegiatan makan bersama memang selalu rutin dilaksanakan. Harapan kami, walaupun tahun ini kegiatan babarit atau makan bersama di jalan ditiadakan, semoga tahun-tahun berikutnya bisa kembali digelar bahkan lebih menarik dengan memperkuat unsur kebudayaan dan kebersamaannya," tuturnya.

Kekompakan warga lingkungan 515 sendiri memang bukan hal baru. Hampir setiap tahun mereka dikenal aktif menggelar berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari peringatan Hari Kemerdekaan RI, kegiatan sosial, hingga berbagai agenda yang mempererat silaturahmi antarwarga.

Di tengah perubahan pola penyelenggaraan Babarit tahun ini, inisiatif warga RT 005 dan RT 015 menjadi pesan kuat bahwa menjaga tradisi bukan semata tanggung jawab panitia ataupun pemerintah. Tradisi akan tetap hidup selama masyarakat masih memiliki kepedulian untuk merawatnya.

Mungkin panggung utama tahun ini tak lagi dipenuhi kemeriahan seperti biasanya. Namun di sebuah gang kecil yang menghubungkan dua RT di Winduherang, nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan kecintaan terhadap budaya justru tetap menyala—menjadi pengingat bahwa akar sebuah tradisi sesungguhnya berada di hati masyarakatnya. (Han)