Cilembu Menyala! Kebo Bule Bersama Warga, Sulap Kampung Jadi Lautan Cahaya Kemerdekaan
KUNINGAN – Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia terasa berbeda di Dusun Cilembu, Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, Kabupaten Kuningan.
Bukan sekadar memasang bendera dan umbul-umbul, warga setempat menyulap lingkungan kampung menjadi kawasan yang benar-benar “Cilembu Menyala”. Ribuan lampu hias, warna-warni pengecatan jalan, serta deretan ornamen merah putih menghiasi sudut-sudut kampung, menciptakan suasana meriah sekaligus penuh semangat kebangsaan.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, warga bersama para pendukung kegiatan menggelontorkan anggaran sekitar Rp50 juta, merupakan hasil swadaya masyarakat dan sponsor H. Safrudin, pengusaha sapi dan kerbau yang dikenal dengan nama besar “Kebo Bule”.
Tak tanggung-tanggung, warga memasang sekitar 2.800 meter lampu hias, 1.500 meter umbul-umbul, serta melakukan pengecatan jalan sepanjang kurang lebih 1.300 meter. Seluruhnya dikerjakan dengan semangat gotong royong.
Putra H. Safrudin, Agung Widianto (18), mengatakan kemeriahan HUT Kemerdekaan di Dusun Cilembu tahun ini merupakan pelaksanaan untuk tahun kedua. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan semata-mata menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat persatuan warga sekaligus mengenang jasa para pahlawan.
“Ini tahun kedua. Tujuannya untuk mempererat persatuan dan mengingat serta mengenang jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan,” ujar Agung saat ditemui di lokasi, Kamis (13/8/2026).
Antusiasme warga terhadap kegiatan tersebut bahkan bukan kali pertama mencuri perhatian. Pada pelaksanaan tahun sebelumnya, kemeriahan kampung tersebut disebut sempat diliput televisi nasional karena konsep dekorasi dan semangat warga yang begitu meriah.
Tahun ini, tradisi tersebut kembali dihidupkan dengan konsep yang lebih semarak. Gemerlap lampu yang membentang di antara pepohonan, ornamen merah putih yang menghiasi jalan, serta ruang publik yang dicat penuh warna membuat Dusun Cilembu seolah berubah menjadi panggung rakyat menyambut bulan kemerdekaan.
Semangat itu pun tidak berhenti pada dekorasi.
Sebagai acara puncak, panitia berencana menggelar Jalan Santai Kebo Bule yang terbuka bagi masyarakat. Peserta nantinya berkesempatan membawa pulang berbagai hadiah menarik, termasuk sepeda motor, sepeda, serta beragam doorprize lainnya.
Menariknya, masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan tersebut tidak dipungut biaya. Kupon disediakan secara gratis sebagai bentuk kebersamaan dan apresiasi kepada warga.
Kepala Desa Karangkamulyan, Yayat Supriatna, mengapresiasi kekompakan masyarakat dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Menurutnya, semangat warga menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan masih menjadi ruang penting untuk memperkuat persatuan dan budaya gotong royong.
“Semangat warga luar biasa. Mereka kompak, bergotong royong dan bersama-sama membuat lingkungan semakin semarak dalam memperingati HUT Kemerdekaan,” ujarnya.
Di tengah kesibukan menyambut perayaan kemerdekaan, Yayat juga terus melakukan pembenahan lingkungan di sekitar Kantor Desa Karangkamulyan. Sejumlah penataan dilakukan, mulai dari ruang terbuka hingga pembuatan tugu dusun dan logo Kabupaten Kuningan sebagai bagian dari upaya mempercantik lingkungan desa.
Semarak kemerdekaan ternyata bukan hanya milik Dusun Cilembu.
Dua dusun lainnya di Desa Karangkamulyan juga menunjukkan semangat serupa. Dusun Cimulia menghiasi wilayahnya dengan pernak-pernik merah putih dan lampu sepanjang sekitar 600 meter. Sementara Dusun Pasir Tengah memasang bendera sepanjang kurang lebih 250 meter serta dekorasi lampu sekitar 650 meter.
Menariknya, seluruh rangkaian kegiatan tersebut dibangun melalui swadaya masyarakat.
Dari Cilembu hingga dusun-dusun lainnya, semangat yang ditampilkan bukan hanya tentang siapa yang paling meriah menghias kampung. Lebih dari itu, ada pesan yang jauh lebih penting: bahwa kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara sederhana, tetapi bermakna—dengan menyatukan warga, menghidupkan gotong royong dan menjaga ingatan terhadap perjuangan para pendahulu.
Cilembu Menyala akhirnya bukan sekadar slogan. Ia menjadi gambaran bagaimana api kemerdekaan tetap dijaga—bukan hanya melalui cahaya lampu, tetapi melalui kekompakan dan kepedulian warga. (Han)



