Tak Cukup Diangkut, Purwawinangun Mulai Benahi Sampah dari Rumah
KUNINGAN – Upaya membangun kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah dari tingkat paling bawah mulai diperkuat Kelurahan Purwawinangun, Kecamatan Kuningan. Sebanyak 120 anggota Linmas, LPM, RT, RW dan unsur organisasi kelurahan mengikuti pembinaan dan pelatihan di Aula Kelurahan Purwawinangun, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang rutin dilaksanakan setiap tahun dan dibiayai melalui APBD Kabupaten Kuningan melalui Dana Alokasi Umum (DAU) yang dialokasikan bagi masing-masing kelurahan.
Plt Lurah Purwawinangun, Aan Indra Gunawan, SE, mengatakan pada semester pertama tahun 2026, program pemberdayaan masyarakat di Kelurahan Purwawinangun diarahkan pada kegiatan pembinaan dan pelatihan. Sementara pada semester kedua, program akan lebih diarahkan pada sektor pembangunan.
“Untuk tahun 2026 semester pertama ini bagian pemberdayaan. Nanti untuk semester kedua bagian pembangunan,” ujar Aan.
Menurutnya, pengelolaan sampah sengaja dipilih menjadi salah satu materi utama karena persoalan tersebut masih membutuhkan perhatian serius. Kesadaran sebagian masyarakat terhadap pengelolaan sampah, termasuk kewajiban membayar retribusi, dinilai belum sepenuhnya tumbuh.
“Kita mengambil pembinaan dan pelatihan untuk anggota Linmas, LPM, RT, RW dan organisasi, diikuti 120 orang. Kenapa kita mengambil pemberdayaan dan pelatihan pengelolaan sampah? Karena bisa dikatakan pengelolaan sampah di Kelurahan Purwawinangun belum maksimal,” jelasnya.
Aan menyebut masih terdapat warga yang belum memahami secara utuh aturan maupun program pemerintah daerah terkait retribusi sampah. Bahkan, sebagian warga masih enggan memenuhi kewajiban tersebut.
Karena itu, pembinaan kali ini tidak hanya berbicara mengenai retribusi, tetapi juga mendorong masyarakat agar mampu mengelola sampah sejak dari rumah masing-masing.
“Selain sosialisasi tentang retribusi sampah, kita juga penguatan bagaimana tiap rumah tangga bisa mengolah sampah mulai dari sampah rumah tangga, seperti pemilahan sampah dan pengelolaan sampah,” katanya.
Disiapkan Menuju MoU dengan DLH
Selain membangun kesadaran masyarakat, kegiatan tersebut juga menjadi langkah awal Kelurahan Purwawinangun untuk mempersiapkan kerja sama pengelolaan dan pengangkutan sampah dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kuningan.
Aan mengungkapkan, hingga saat ini Kelurahan Purwawinangun belum memiliki Memorandum of Understanding (MoU) dengan DLH. Sebelum kerja sama dilakukan, pihak kelurahan akan terlebih dahulu melakukan pemetaan kondisi di lapangan bersama RT dan RW.
“Nanti akan mengundang semua RT dan RW dulu. Kita akan melihat potensi, seperti pemetaan jumlah rumah di masing-masing RT. Baru nanti kami dengan LPM akan melakukan MoU dengan Dinas LH,” ungkapnya.
Menurut Aan, pemetaan tersebut penting agar pengelolaan sampah ke depan memiliki dasar yang jelas, baik dari sisi jumlah rumah tangga, kebutuhan layanan maupun mekanisme pengelolaannya.
Dengan demikian, persoalan sampah tidak hanya diselesaikan dengan mengangkut dan membuangnya, tetapi mulai dibangun dari sumbernya melalui keterlibatan langsung masyarakat.
DLH: Pengelolaan Sampah Bukan Hanya Tanggung Jawab Pemerintah
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Kuningan, Andi, SE, MM, yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi forum pembinaan yang digelar Kelurahan Purwawinangun.
Menurutnya, forum seperti ini penting karena pengelolaan sampah tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah, khususnya DLH.
“Bagi saya ini salah satu forum yang bagus. Menyampaikan kaitan dengan pengelolaan sampah artinya bukan hanya tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup,” ujar Andi.
Ia menilai keterlibatan perangkat kelurahan, RT, RW, LPM dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Andi juga mendorong agar sampah tidak selalu dipandang sebagai persoalan yang harus segera disingkirkan. Jika dikelola dengan baik, sampah justru memiliki potensi ekonomi dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami sangat menyambut ketika masyarakat Purwawinangun meminta pembinaan dan pengelolaan sampah agar sampah ini tidak menjadi masalah, melainkan menjadi berkah, bahkan bisa menjadi pendapatan bagi masyarakat,” katanya.
Melalui pembinaan tersebut, Kelurahan Purwawinangun berharap kesadaran pengelolaan sampah dapat tumbuh dari lingkungan terkecil. Bukan sekadar membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memilah, mengolah, dan memahami bahwa kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Sebab, persoalan sampah tidak akan selesai hanya dengan semakin banyaknya armada pengangkut. Perubahan harus dimulai dari sumbernya: dari rumah, dari lingkungan, dan dari kesadaran setiap warga. (Han)
