Dituding Jadi Awal Ajakan Tawuran, SMPN 1 Garawangi Buka Suara: “Saya Kurang Yakin”
KUNINGAN – Polemik di balik pengamanan enam pelajar yang diduga hendak melakukan aksi tawuran di wilayah Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan, kembali bergulir.
Setelah sebelumnya pihak SMAN 1 Garawangi memberikan klarifikasi terkait dua siswanya yang ikut diamankan, kini giliran SMPN 1 Garawangi angkat bicara. Sekolah tersebut merasa perlu memberikan penjelasan setelah nama siswanya disebut sebagai pihak yang diduga menjadi awal mula rencana aksi tawuran.
Kepala SMPN 1 Garawangi, Hj. Engkom Komara, M.Pd., membenarkan bahwa seorang siswa berinisial TP yang diamankan patroli kepolisian merupakan peserta didik di sekolahnya.
Namun, ia mempertanyakan informasi yang menyebut TP sebagai pihak yang pertama kali merencanakan atau menginisiasi tawuran.
“Kalau disebut siswa kami sebagai anak yang pertama merencanakan tawuran, rasanya saya kurang yakin,” ujar Engkom kepada Info Kuningan 24, Selasa (22/9/2026).
Menurut Engkom, persoalan tersebut pada dasarnya telah ditangani. TP telah menjalani pembinaan di Polres Kuningan dan orang tuanya juga telah dipanggil untuk diberikan pemahaman terkait persoalan yang terjadi.
Pihak sekolah, kata dia, juga telah mengambil langkah pembinaan. TP diberikan teguran serta diminta membuat surat pernyataan agar tidak mengulangi perbuatannya maupun terlibat dalam aktivitas yang berpotensi menimbulkan persoalan.
“Sudah ditegur dan diberikan pembinaan. Tidak ada skorsing untuk siswa tersebut,” tegasnya.
Sekolah Bantah Siswa Jadi Penggagas
Engkom secara khusus menanggapi informasi yang menyebut rencana tawuran bermula dari siswa SMPN 1 Garawangi.
Ia mengaku tidak memperoleh keyakinan bahwa TP merupakan pihak yang merencanakan aksi tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima pihak sekolah, TP justru disebut berada dalam posisi ikut-ikutan setelah mendapat ajakan.
“Asa ga yakin kalau anak SMP yang merencanakan. Siswa saya hanya diajak dan ikut-ikutan saja. Tapi nanti saya coba tanyakan lagi ke anaknya cerita yang sebenarnya bagaimana, ” ungkapnya.
Meski demikian, pihak sekolah tidak menutup mata terhadap keterlibatan siswanya dalam peristiwa tersebut. Engkom menegaskan, pembinaan tetap diberikan sebagai bentuk tanggung jawab sekolah sekaligus upaya mencegah kejadian serupa terulang.
Menurutnya, sejak awal sekolah terus mengingatkan para siswa mengenai dampak buruk tawuran dan berbagai bentuk kenakalan remaja.
Bahkan, dalam kegiatan Gerbang Berkah pada Jumat sebelumnya, pesan serupa kembali disampaikan kepada para siswa.
“Saya selalu menekankan kepada siswa agar tidak mengulangi atau melakukan hal-hal yang menimbulkan masalah, baik tawuran maupun kenakalan remaja lainnya,” katanya.
Ia menambahkan, lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang mampu membentengi siswa dari pengaruh pergaulan yang berpotensi membawa mereka ke persoalan hukum.
Karena itu, meskipun kejadian berlangsung di luar lingkungan dan jam sekolah, SMPN 1 Garawangi tetap mengambil langkah pembinaan terhadap TP.
Namun, terkait tudingan bahwa siswanya merupakan penggagas awal aksi tawuran, pihak sekolah memilih untuk tidak serta-merta membenarkan informasi tersebut.
“Kami sudah melakukan pembinaan dan memberikan surat pernyataan agar tidak mengulanginya lagi,” pungkas Engkom.
Dengan adanya klarifikasi dari SMPN 1 Garawangi ini, muncul dua versi keterangan mengenai posisi TP dalam rangkaian kejadian tersebut. Pihak SMAN 1 Garawangi sebelumnya menyebut berdasarkan informasi yang diterima dari orang tua siswa, TP diduga mengajak pelajar lain dan kemudian meminta bantuan siswa SMAN 1 Garawangi. Sementara pihak SMPN 1 Garawangi menyatakan belum yakin TP merupakan penggagas tawuran dan menyebut siswanya hanya diajak serta ikut-ikutan.
Keterangan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat rangkaian peristiwa secara utuh, sementara kepastian mengenai siapa yang pertama kali merencanakan aksi tersebut tetap menjadi ranah pendalaman pihak yang menangani perkara. (Han)
