Dikritik Pemerhati Lingkungan, Dinas LH Kuningan Buka Kartu Soal Sampah
KUNINGAN – Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Kuningan akhirnya angkat bicara merespons kritik pemerhati lingkungan, Adrian Purnama, terkait persoalan pengelolaan sampah di wilayah perkotaan, khususnya Winduherang dan sepanjang Jalan Ir. Soekarno.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas LH Kabupaten Kuningan, Andi, SE, MM, menegaskan bahwa kritik tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi instansinya.
“Kami ucapkan terima kasih atas masukan dari pemerhati lingkungan. Itu menjadi evaluasi bagi kami,” ujar Andi saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (10/02/2026).
baca berita sebelumnya :
https://www.infokuningan24jam.com/2026/02/soal-sampah-winduherang-pemerhati.html?m=1
Menjawab sorotan soal pengangkutan sampah yang dinilai tidak optimal di jalur vital seperti Jalan Siliwangi, Andi menjelaskan bahwa untuk kawasan perkotaan sebenarnya sudah diberlakukan dua kali pengangkutan setiap hari.
“Pasukan kami sudah mulai pengangkutan sejak pukul 05.00 WIB, lalu dilanjutkan jadwal siang pukul 11.00 WIB,” jelasnya.
Namun demikian, Andi tak menampik bahwa sistem yang ada masih jauh dari ideal. Dinas LH, kata dia, terus mencari formulasi terbaik yang efektif dan efisien, dengan mempertimbangkan keterbatasan operasional.
Keterbatasan itu bukan isapan jempol. Secara terbuka, Dinas LH membeberkan kondisi riil di lapangan:
19 armada truk dan 7 kontainer harus meng-cover 14 kecamatan di Kabupaten Kuningan.
Beban tersebut kian berat bila melihat fakta volume sampah harian. Dari total sekitar 485 ton sampah per hari, hanya 56 ton yang mampu tertangani, sementara sekitar 260 ton per hari belum tertangani secara optimal.
Melihat kondisi tersebut, Dinas LH mulai menggeser fokus kebijakan dari sekadar pengangkutan ke pengurangan volume sampah di sumbernya. Andi menyebut, karakteristik sampah di Kuningan didominasi sampah organik.
“Sekitar 60 persen sampah di Kuningan itu organik, sisanya 40 persen anorganik,” ungkapnya.
Sebagai terobosan, Dinas LH menggagas konsep sumur sampah organik sedalam dua meter di lingkungan rumah warga. Sampah dapur yang bersifat organik dimasukkan ke dalam sumur, sementara sampah anorganik dipilah untuk dijual atau didaur ulang.
“Kalau ini berjalan, volume sampah yang harus diangkut bisa berkurang signifikan,” katanya.
Namun Andi menegaskan, terobosan tersebut tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi kuat dengan desa dan kelurahan, serta kerja sama lintas sektor, mengingat kebutuhan anggaran yang besar.
Terkait kritik soal ketiadaan bak sampah di sepanjang Jalan Ir. Soekarno, dari kawasan Kuningan Islamic Center hingga Perumahan Cigintung, Andi menjelaskan bahwa hingga kini belum ada rencana pengadaan bak sampah di jalur tersebut.
Ia mengakui, selain faktor kebijakan, pihaknya juga masih kebingungan menentukan landasan dan titik penempatan bak sampah yang tepat di kawasan itu.
Sebagai langkah konkret, Dinas LH memilih pendekatan layanan langsung. Salah satunya dengan menambah rute baru pengangkutan sampah ke Perumahan Cigintung, yang kini dilayani setiap Rabu dan Sabtu.
“Kami optimis, ketika layanan sudah masuk ke perumahan Cigintung, masalah sampah bisa tertangani,” ujarnya.
Optimisme itu, menurut Andi, mulai terlihat. Berdasarkan pemantauan beberapa hari terakhir, tumpukan sampah yang sebelumnya kerap terlihat di trotoar sepanjang Jalan Ir. Soekarno disebut sudah tidak ditemukan lagi.
Pernyataan Dinas LH ini menjadi respons resmi atas kritik pemerhati lingkungan yang sebelumnya menyoroti kesan pembiaran dan lemahnya sistem pengelolaan sampah. Kini, tantangannya bukan sekadar janji, melainkan konsistensi kebijakan dan keberanian berbenah di tengah keterbatasan yang diakui secara terbuka. (Han)
