Dishub dan Kelurahan Purwawinangun Respon Fenomena War Takjil: Berkah Ekonomi Harus Diimbangi Penataan

 


KUNINGAN — Pemerintah daerah mulai merespons ramainya fenomena war takjil di kawasan Jalan Ir. Soekarno atau Simpang Empat Purwawinangun yang memicu kepadatan lalu lintas selama Ramadan. Dinas Perhubungan Kabupaten Kuningan bersama Kelurahan Purwawinangun memastikan akan segera melakukan koordinasi lintas instansi guna mencari solusi penataan kawasan tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kuningan, H. Mochamad Nurdijanto, SH., M.Si, mengatakan pihaknya akan segera duduk bersama Satpol PP, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, kecamatan, serta pemerintah kelurahan untuk menindaklanjuti kondisi di lapangan.

“Dalam waktu dekat kami akan koordinasi dengan dinas terkait. Fenomena ini sudah menjadi tradisi musiman beberapa tahun terakhir dan merupakan berkah Ramadan karena UMKM menggeliat serta ekonomi masyarakat meningkat,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (20/02/2026).

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan harus mengedepankan sisi kemanusiaan, mengingat para pedagang tengah mencari nafkah di momentum Ramadan. Namun demikian, dampak terhadap lingkungan dan kemacetan tetap harus menjadi perhatian bersama.

“Kita harus memanusiakan manusia. Pedagang perlu ruang mencari rezeki, tetapi dampak seperti kemacetan dan kenyamanan pengguna jalan juga harus dipertimbangkan. Karena itu perlu duduk bersama untuk penataan yang tepat,” tambahnya.

Senada dengan itu, Pemerintah Kelurahan Purwawinangun melalui Sekretaris Kelurahan, Budi Yulianto, S.Sos, menjelaskan bahwa pusat kuliner Ramadan di simpang empat tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir dan berkembang secara alami tanpa pengelolaan resmi.

Ia mengungkapkan, ramainya kawasan tersebut tidak pernah melalui pemberitahuan formal kepada pihak kelurahan, sehingga aktivitas pasar takjil tumbuh secara organik dari antusiasme masyarakat.

“Lokasi itu ramai bukan karena dikelola pihak tertentu, tetapi berkembang dari informasi mulut ke mulut hingga menjadi seperti sekarang,” jelasnya.

Meski demikian, pihak kelurahan tidak berada pada posisi mendukung maupun menolak keberadaan keramaian tersebut. Menurutnya, fenomena itu merupakan berkah Ramadan yang turut menggerakkan ekonomi warga, namun aspek pengelolaan dan keamanan perlu mendapat perhatian lebih serius.

Kelurahan Purwawinangun menyambut baik rencana koordinasi lintas dinas yang diinisiasi Dinas Perhubungan, terlebih karena Ramadan baru memasuki tahap awal dan potensi lonjakan pengunjung diperkirakan masih akan meningkat.

Sebagai langkah awal, kelurahan akan membuka komunikasi dengan lingkungan setempat, khususnya wilayah RT 008 dan RT 009 yang menjadi lokasi aktivitas pasar takjil.

“Kami akan mencari solusi terbaik agar tidak ada pihak yang dirugikan. Ini momentum tahunan yang hanya terjadi sekali dalam setahun, sehingga penataan perlu dilakukan tanpa menghilangkan manfaat ekonominya,” pungkasnya.

Fenomena war takjil Purwawinangun kini menjadi gambaran dinamika Ramadan di tengah kota: menghadirkan berkah ekonomi bagi masyarakat, sekaligus tantangan penataan ruang publik yang menuntut kehadiran pemerintah secara kolaboratif. (Han)