Ketika Jalan Rusak Mengancam Nyawa, Pemerintah Masih Diam

 


KUNINGAN – Di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang kerap digaungkan pemerintah daerah, Dusun Cisandag, Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, justru masih bergulat dengan realitas pahit: akses jalan utama sepanjang kurang lebih 3.000 meter yang hingga kini tetap berupa tanah merah.

Warno, Ketua RT Dusun Cisandag, menuturkan bahwa kondisi jalan tersebut bukan persoalan baru. Sejak dulu, akses penghubung dusun memang hanya berupa jalan tanah, licin saat hujan dan berdebu saat kemarau. Dua tahun lalu, harapan sempat tumbuh ketika sekitar 500 meter jalan dari arah Dusun Bunikerta menuju Cisandag dicor beton. Namun harapan itu kembali runtuh—secara harfiah—karena jalan yang dicor tersebut kini sudah rusak dan tak lagi layak dilalui.

“Sudah dua tahun tidak ada perhatian lanjutan dari Pemerintah Desa Cipakem. Jalan yang dicor pun sekarang hancur lagi,” ujar Warno kepada infokuningan24, Minggu (08/02/2026). 

Ironisnya, jalan rusak ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan dan kemanusiaan. Warno mengungkapkan, ketika ada warga yang sakit parah atau ibu hamil yang hendak melahirkan, warga terpaksa menandu pasien sejauh tiga kilometer hanya untuk mencapai titik yang bisa dilalui kendaraan menuju rumah sakit.

“Ini bukan cerita berlebihan. Ini kenyataan yang kami alami,” tegasnya.

Kondisi tersebut menempatkan Dusun Cisandag seolah berada di pinggiran perhatian pembangunan. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan justru berubah menjadi simbol ketimpangan dan keterabaian.

Atas dasar itu, warga Dusun Cisandag secara terbuka memohon perhatian Bupati Kuningan agar turun tangan membantu perbaikan akses jalan. Mereka berharap ada langkah nyata, bukan sekadar janji, demi menjamin hak dasar warga atas akses kesehatan, mobilitas, dan kehidupan yang layak.

“Semoga ada tindakan nyata dari Bupati Kuningan untuk membuka keterisolasian Dusun Cisandag,” pungkas Warno.

Ketika pembangunan tak kunjung menyentuh pelosok, pertanyaannya sederhana namun menggigit: sampai kapan warga Cisandag harus menandu harapan mereka sendiri di atas jalan tanah yang rusak? (Han)