Warga Wanaasih Curhat Ke MPK, Siap Hadang Gubernur Demi Relokasi
KUNINGAN — Keluhan warga Dusun II Wanaasih, Desa Randusari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, terkait bau menyengat dari aliran pembuangan Bendungan Cileuweung kembali mencuat. Kali ini, aspirasi masyarakat kembali disuarakan melalui Masyarakat Peduli Kuningan (MPK) yang turun langsung menemui warga untuk mendengar keluhan mereka secara langsung.
Dipimpin oleh Yusup Dandi Asih, MPK bersama tim mendatangi pemukiman warga pada Rabu (11/03/2026). Kunjungan tersebut merupakan respons atas permintaan masyarakat yang berharap persoalan mereka kembali disuarakan kepada pemerintah.
MPK sendiri diketahui sejak awal telah ikut mendampingi warga dalam menyampaikan aspirasi terkait dampak keberadaan bendungan tersebut. Organisasi masyarakat ini bahkan turut memfasilitasi komunikasi warga dengan Komisi XII DPR RI serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sebagai pihak yang berwenang terhadap pengelolaan bendungan.
Namun hingga kini, warga menilai persoalan yang mereka hadapi belum mendapatkan kepastian solusi yang memadai.
Dusun II Wanaasih sendiri terdiri dari 4 RT dan 1 RW, dengan total sekitar 137 rumah dan 157 kepala keluarga. Warga yang tinggal di kawasan tersebut kini menyatakan sikap tegas: relokasi menjadi harga mati demi keselamatan dan ketenangan hidup mereka.
Ketua RT setempat, Dasko (42), menyampaikan harapan besar kepada pemerintah, mulai dari Bupati Kuningan, Gubernur Jawa Barat hingga Presiden RI agar memberikan perhatian serius terhadap kondisi masyarakat di wilayah tersebut.
Menurutnya, lokasi pemukiman warga berada sangat dekat dengan infrastruktur bendungan. Jarak rumah warga diperkirakan hanya sekitar 200 meter dari Bendungan Cileuweung dan bahkan hanya sekitar 10 meter dari jalur pembuangan air waduk, yakni Sungai Cikaro yang mengalir menuju wilayah Brebes, Jawa Tengah.
Dasko mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir bau menyengat tidak tercium karena saluran pembuangan air waduk sedang ditutup.
“Sudah sekitar empat hari ditutup dan tidak tercium bau menyengat. Kalau tidak ditutup, baunya sangat kuat dan mengganggu kesehatan warga,” ujarnya.
Ia menduga penutupan sementara tersebut berkaitan dengan rencana kunjungan Gubernur Jawa Barat ke wilayah Kuningan dalam waktu dekat.
“Mungkin karena mau ada kunjungan gubernur ke Kuningan, jadi ditutup supaya tidak ada protes warga,” katanya.
Sebelumnya, Dasko mengaku pernah dua kali mendatangi Lembur Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat, bersama kepala desa, tokoh masyarakat, dan perwakilan warga untuk menyampaikan langsung keluhan mereka. Namun upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Kami hanya bertemu dengan tim pengaduan, Pak Mumuh. Saat itu diminta mengirimkan video kondisi di sini dan katanya akan ditinjau. Tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi,” ungkapnya.
Keresahan serupa disampaikan oleh salah seorang warga, Desih (55). Ia menegaskan bahwa relokasi menjadi harapan utama masyarakat demi keselamatan bersama.
Menurutnya, posisi pemukiman warga yang berada tepat di bawah bendungan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat.
“Kami akan nurut dimanapun kami direlokasi. Tidak akan rewel. Yang penting keselamatan warga di sini terjamin dan kami bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang ketakutan,” tuturnya.
Desih juga berharap Gubernur Jawa Barat yang dijadwalkan berkunjung ke Kabupaten Kuningan dapat menyempatkan diri melihat langsung kondisi warga Wanaasih.
Bahkan, warga menyatakan siap menghadang rombongan gubernur apabila kesempatan itu datang, demi memastikan suara mereka benar-benar didengar.
“Kalau perlu kami akan hadang agar beliau mau melihat langsung kondisi kami di sini,” ujarnya.
Bagi warga Wanaasih, persoalan bau menyengat dari aliran bendungan bukan sekadar masalah lingkungan. Lebih dari itu, mereka merasa hidup dalam ketidakpastian dan kecemasan setiap hari, karena tinggal sangat dekat dengan infrastruktur bendungan dan jalur pembuangan air.
Kini masyarakat berharap pemerintah tidak lagi sekadar mendengar, tetapi benar-benar menghadirkan solusi nyata, termasuk kemungkinan relokasi pemukiman warga demi keselamatan dan masa depan mereka. (Han)
