"Milangkala Ke-8 Kendangers Kuningan, Buktikan Seni Tak Hanya Menghibur, Tetapi Mengabdi untuk Masyarakat"


KUNINGAN – Ribuan pasang mata larut dalam semarak perayaan Milangkala Kendangers Kabupaten Kuningan ke-8 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Desa Karangkamulyan, Kecamatan Ciawigebang, pada 17–18 Juli 2026. Mengusung tema "Sawindu Miraga Kendang", perhelatan ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan menjadi momentum memperkuat persaudaraan, kepedulian sosial, sekaligus komitmen melestarikan seni budaya Sunda.

Perayaan yang diikuti ratusan anggota komunitas tersebut juga dihadiri langsung Ketua Umum Kendangers Jawa Barat, Cucu Zbeth, sebagai bentuk dukungan terhadap eksistensi Kendangers Kuningan yang kini telah beranggotakan sekitar 320 orang.

Ketua Kendangers Kabupaten Kuningan periode 2026–2029, Harry Pacer, mengatakan tema "Sawindu Miraga Kendang" menjadi simbol perjalanan delapan tahun komunitas dalam menjaga eksistensi seni kendang sekaligus mempererat tali silaturahmi antarseniman.

"Semangat kami adalah Sabeungkeutan. Tidak ada yang lebih tua, tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang merasa paling hebat. Di Kendangers kita semua belajar, saling menguatkan, dan bersama-sama menjaga warisan budaya Sunda," ujarnya.

Berbeda dari sekadar perayaan ulang tahun komunitas, Milangkala Kendangers kali ini dibuka dengan berbagai kegiatan sosial yang mendapat apresiasi luas dari masyarakat.

Pada Sabtu (17/7), puluhan anggota Kendangers menggelar bakti sosial "Bebersih Tajug" dengan membersihkan enam tajug atau musala yang tersebar di tiga dusun di Desa Karangkamulyan.

Menurut Harry, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru bagi masyarakat karena baru pertama kali sebuah komunitas seniman menginisiasi aksi gotong royong membersihkan rumah ibadah.

"Alhamdulillah masyarakat sangat antusias. Mereka memberikan apresiasi karena baru kali ini ada komunitas seni yang turun langsung membersihkan tajug. Ini menjadi bukti bahwa seniman tidak hanya hadir di atas panggung, tetapi juga hadir untuk masyarakat," katanya.

Selain bakti sosial, panitia juga menyalurkan santunan kepada puluhan anak yatim, serta menghadirkan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Cihaur, Kecamatan Ciawigebang.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari berbagai pihak, termasuk Anggota DPRD Kabupaten Kuningan, Lia, yang turut memberikan dukungan penuh, bahkan menyiagakan ambulans pribadinya selama dua hari pelaksanaan kegiatan untuk mengantisipasi kebutuhan layanan kesehatan di lokasi acara.

Memasuki malam puncak, panggung Milangkala dipenuhi pertunjukan seni dari berbagai sanggar di Kabupaten Kuningan. Penampilan Debus dari Komunitas Sundawani, hingga pementasan calung turut menyemarakkan suasana sebelum acara mencapai klimaks.

Momentum puncak ditandai dengan peluncuran resmi kaos Kendangers Kuningan, sebagai identitas baru yang merepresentasikan semangat kebersamaan komunitas.

Suasana semakin meriah ketika sejumlah bintang tamu seperti Seliya Marsellia, Resy Kania Dewi, dan Ade Astrid tampil menghibur ribuan penonton. Kemeriahan kemudian ditutup dengan pertunjukan Jaipong Bajidoran yang dibawakan Neng Amoy, juru kawih dari Giri Harja 3 Putra pimpinan Ki Dalang Yogaswara Sunandar Sunarya.

Di balik kemeriahan tersebut, Harry menyampaikan harapan agar Kendangers Kuningan semakin solid dan mampu menghapus sekat antargenerasi.

"Kami ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa Kendangers adalah komunitas yang membawa manfaat. Kami ingin terus melestarikan budaya Sunda, mempererat persaudaraan, dan menjadi wadah yang terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar seni kendang," ungkapnya.

Harry juga berharap keberadaan Kendangers mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Kuningan, khususnya dalam bidang pelestarian kebudayaan.

"Kami ingin mendapatkan pengakuan dari pemerintah daerah. Kami ingin dirangkul dan diberi ruang untuk berkembang. Kami ini bagian dari pelaku budaya yang terus berusaha menjaga warisan seni tradisional agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Alhamdulillah, komunikasi dengan bidang kebudayaan juga sudah mulai terjalin dan kami berharap dapat terus berlanjut," tuturnya.

Diketahui, Harry Pacer resmi memimpin Kendangers Kabupaten Kuningan untuk periode 2026–2029 setelah dilantik pada Mei 2026, melanjutkan estafet kepemimpinan dari Apih Sakir, Tatang Koswara, dan Andri.

Memasuki usia kedelapan, Kendangers Kuningan tak hanya ingin dikenal sebagai komunitas para penabuh kendang. Lebih dari itu, mereka ingin menjadi ruang persaudaraan, penggerak aksi sosial, sekaligus garda terdepan dalam menjaga denyut budaya Sunda agar terus hidup, berkembang, dan dicintai oleh generasi mendatang. (Ham)