Tawuran Pelajar Bersenjata Gegerkan Jantung Kota Kuningan, Warga Panik, Warung Rusak Dihantam Batu
KUNINGAN – Aksi brutal tawuran antarpelajar kembali mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Kuningan. Kali ini, bentrokan yang diduga melibatkan pelajar dari dua sekolah swasta pecah di Jalan RA Moetarsih, tepatnya di kawasan lampu merah Pasar Darurat, Kecamatan Kuningan, Kamis (30/7/2026) sore.
Peristiwa yang terjadi di salah satu ruas jalan paling padat di pusat kota itu sontak mengundang kepanikan warga. Arus lalu lintas sempat terganggu ketika puluhan pelajar saling kejar dan saling serang di tengah jalan. Batu beterbangan, sementara sejumlah pelajar diduga mengacungkan senjata tajam jenis celurit.
Akibat aksi anarkis tersebut, kaca gerobak dan etalase sebuah warung dilaporkan pecah dihantam lemparan benda keras. Seorang ibu bersama anaknya bahkan dikabarkan terjatuh dari sepeda motor karena panik saat berusaha menghindari keributan.
Salah seorang saksi mata, Tubagus Iwan, menuturkan bahwa situasi awalnya tampak biasa. Sejumlah pelajar terlihat berkumpul di sekitar lokasi hingga kemudian datang rombongan lain yang diduga berjumlah sekitar 20 sepeda motor. Tak lama berselang, bentrokan pun pecah.
"Begitu datang langsung mengeluarkan celurit. Mereka menyerang sambil mengayunkan senjata tajam dan melempar batu. Saya bersama pemilik warung sampai melempar kursi agar mereka bubar. Semua langsung berlarian," ungkapnya.
Menurut Iwan, aparat kepolisian hanya sempat mengamankan seorang pelajar, sementara pelaku lainnya berhasil melarikan diri. Ia juga mengaku peristiwa serupa bukan kali pertama terjadi di lokasi tersebut. Bahkan, ia beberapa kali menyaksikan aksi penyerangan yang melibatkan pelajar dengan membawa senjata tajam.
Beruntung, tidak ada korban luka akibat bentrokan tersebut. Namun, insiden ini kembali memunculkan kekhawatiran masyarakat atas meningkatnya aksi kekerasan yang melibatkan pelajar di ruang publik.
Menanggapi kejadian tersebut, Camat Kuningan Deni Hamdani menyatakan keprihatinannya. Ia memastikan Pemerintah Kecamatan Kuningan bersama kepolisian akan melakukan investigasi dengan melibatkan pihak sekolah untuk mengungkap penyebab pasti bentrokan.
"Kami sangat prihatin. Bersama kepolisian kami akan melakukan investigasi dengan melibatkan kedua sekolah. Sampai saat ini penyebabnya masih didalami," ujarnya.
Deni mengungkapkan, berdasarkan informasi sementara, seorang pelajar dari kelompok yang diduga melakukan penyerangan telah diamankan untuk dimintai keterangan. Ia juga membenarkan adanya dugaan pelajar yang membawa senjata tajam saat kejadian.
Meski demikian, ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui pembinaan yang memberikan efek jera tanpa mengesampingkan proses hukum terhadap pihak-pihak yang terbukti melanggar aturan.
"Tawuran merupakan bentuk kenakalan remaja yang tidak bisa dianggap biasa. Pencegahannya harus menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari sekolah, orang tua, pemerintah hingga aparat penegak hukum," tegasnya.
Ia menambahkan, sepanjang pengetahuannya, insiden ini merupakan kasus tawuran pertama yang tercatat di wilayah Kecamatan Kuningan. Namun, munculnya kembali aksi kekerasan antarpelajar menjadi sinyal serius bahwa pengawasan, pembinaan karakter, serta penegakan disiplin di lingkungan pendidikan perlu diperkuat agar tidak berkembang menjadi budaya kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat.
Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian masih melakukan penyelidikan guna mengungkap motif, kronologi lengkap, serta menelusuri pelajar lain yang diduga terlibat dalam aksi tawuran tersebut. (Han)
