Saat Al-Qur’an Menjadi Perekat: OWOJ Winduherang Rayakan Maulid Nabi dengan Syiar dan Santunan


 

KUNINGAN – Bukan sekadar berkumpul, membaca Al-Qur’an, lalu pulang. Selama 70 pekan, semangat menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an terus dirawat oleh Komunitas One Week One Juz (OWOJ) Winduherang, Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan.

Semangat itu kembali diwujudkan melalui rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, yang digelar pada 28–29 Agustus 2026.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Rasulullah SAW, Menguatkan Ukhuwah dan Mencintai Al-Qur’an”, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi momentum mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda, sekaligus menghidupkan kecintaan terhadap Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Rangkaian kegiatan dikemas cukup beragam. Mulai dari perlombaan keagamaan yang melibatkan anak-anak dan santri, khataman Al-Qur’an bersama anggota komunitas, pawai obor, hingga puncaknya berupa Tabligh Akbar. 

Sejumlah perlombaan yang digelar antara lain lomba adzan dan iqomah, Musabaqah Murottal Al-Qur’an (MMQ) putra dan putri, cerdas cermat Pendidikan Agama Islam (PAI), serta lomba mewarnai untuk tingkat PAUD dan TK/RA.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para santri dan lembaga pendidikan keagamaan di Kelurahan Winduherang yang masih konsisten mengambil peran dalam membimbing anak-anak untuk mengenal dan mendalami ajaran Islam sejak usia dini.

Dari Satu Juz, Menjadi Gerakan Kebersamaan

Ketua Panitia, Ust. Hendra Yana, mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini menjadi bagian dari ikhtiar OWOJ Winduherang untuk menjaga semangat membaca dan mencintai Al-Qur’an sekaligus memperluas syiar Islam di tengah masyarakat.

“Kami dari Komunitas One Week One Juz (OWOJ) Winduherang melaksanakan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H pada tanggal 28–29 Agustus 2026,” ujar Hendra.

Menurutnya, rangkaian kegiatan sengaja dirancang tidak hanya berorientasi pada seremoni. Perlombaan keagamaan menjadi salah satu cara untuk memberikan ruang kepada anak-anak agar berani tampil, mengasah kemampuan, sekaligus membangun kecintaan terhadap nilai-nilai agama.

Lebih jauh, keberadaan OWOJ sendiri diharapkan tidak berhenti pada rutinitas membaca Al-Qur’an. Dari kebiasaan membaca satu juz dalam sepekan, tumbuh interaksi, kedisiplinan, silaturahmi dan lingkungan yang positif bagi para anggotanya.

Sebab, kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak ayat yang dibaca, tetapi juga bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Khataman, Pawai Obor hingga Tabligh Akbar

Semangat kebersamaan kemudian dilanjutkan melalui khataman Al-Qur’an bersama anggota OWOJ Winduherang. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat ukhuwah sekaligus menjaga konsistensi gerakan mencintai Al-Qur’an yang telah berjalan hingga pekan ke-70.

Suasana syiar semakin terasa melalui pawai obor. Tradisi tersebut menjadi simbol suka cita masyarakat dalam menyambut bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan semangat keislaman kepada generasi muda dengan cara yang dekat dan menyenangkan.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Tabligh Akbar, sebagai ruang refleksi bersama untuk kembali menempatkan akhlak Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

Pesan yang dibawa pun menjadi semakin relevan: bahwa memperingati Maulid Nabi bukan sekadar mengenang sejarah kelahiran Rasulullah, melainkan juga momentum untuk menghidupkan kembali keteladanan beliau dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika Dakwah Bertemu Gerakan Sosial

Menariknya, rangkaian kegiatan tersebut juga diwarnai dengan santunan kepada anak yatim dalam rangka Anniversary ke-1 InfoKuningan24Jam. 

Kolaborasi ini memperlihatkan bahwa kegiatan keagamaan dapat berjalan beriringan dengan gerakan sosial. Dakwah tidak berhenti di atas mimbar, tetapi diterjemahkan dalam bentuk kepedulian nyata kepada mereka yang membutuhkan.

Ketua Panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang ikut mendukung terlaksananya kegiatan, mulai dari pemerintahan kelurahan, MUI, Karang Taruna Sang Adipati Kelurahan Winduherang, Komunitas Obrog, masyarakat, hingga pihak-pihak yang memiliki misi yang sama dalam membangun kegiatan positif di tengah masyarakat.

"Acara berjalan lancar dan sukses berkat dukungan semua pihak. Semoga kegiatan yang semisal dapat dilaksanakan kembali pada tahun berikutnya dengan syiar yang lebih luas,” harapnya.

70 Pekan dan Sebuah Pesan Besar

Perjalanan hingga pekan ke-70 menjadi catatan tersendiri bagi OWOJ Winduherang.

Di tengah derasnya perubahan zaman dan berbagai kesibukan masyarakat, menjaga rutinitas membaca Al-Qur’an bukan perkara sederhana. Dibutuhkan disiplin, komitmen dan lingkungan yang saling menguatkan.

Dari situlah sejumlah manfaat dapat tumbuh: kedisiplinan dan kemampuan mengelola waktu, memperluas silaturahmi, mendapatkan lingkungan yang positif, serta semakin dekat dengan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.

Pada akhirnya, Maulid Nabi di Winduherang bukan hanya tentang meriah atau tidaknya sebuah acara.

Ada pesan yang jauh lebih dalam: bahwa mencintai Rasulullah harus dibuktikan dengan meneladani akhlaknya, mencintai Al-Qur’an harus diwujudkan dengan membacanya, dan ukhuwah harus dibuktikan dengan kepedulian.

Dari satu juz setiap pekan, OWOJ Winduherang sedang merawat sesuatu yang jauh lebih besar—tradisi membaca, tradisi berkumpul dalam kebaikan, dan tradisi berbagi.

Dan ketika tradisi itu terus dijaga hingga 70 pekan, ia bukan lagi sekadar rutinitas.

Ia telah berubah menjadi gerakan. (red)