Kado Hari Jadi Kuningan: 9 Bulan Melawan Kanker, Operasi Neng Heti Tertahan Tunggakan BPJS
KUNINGAN – Di balik pintu sebuah rumah sederhana di Dusun Kliwon, Desa Kalapagunung, Kecamatan Kramatmulya, tersimpan perjuangan panjang sebuah keluarga menghadapi penyakit yang menggerogoti tubuh sekaligus menguji ketahanan ekonomi mereka.
Adalah Neng Heti Suhaeti (42), warga Kalapagunung yang telah sekitar sembilan bulan menderita kanker payudara. Bersama sang suami, Gugun Gunawan (37), serta seorang anak laki-laki mereka yang baru berusia empat tahun, Neng Heti kini berharap ada jalan keluar agar pengobatan dan tindakan medis yang dibutuhkan dapat segera dilakukan.
Kondisinya diketahui bermula dari benjolan kecil yang awalnya menyerupai bisul pada bagian payudara sebelah kiri. Namun, benjolan tersebut terus berkembang hingga kini berukuran kurang lebih sebesar telur ayam.
Kondisinya semakin mengkhawatirkan dalam beberapa waktu terakhir. Sekitar satu minggu lalu, bagian luka mulai mengeluarkan darah dan nanah. Bahkan, beberapa hari lalu darah disebut sempat terus menetes selama kurang lebih dua jam hingga membuat kondisi tubuh Neng Heti menjadi lemas.
Di tengah kondisi tersebut, keluarga mendapat rujukan untuk menjalani penanganan lebih lanjut di RS Gunung Jati.
Namun, persoalan lain menghadang: tunggakan kepesertaan BPJS Kesehatan yang disebut telah mencapai sekitar Rp1,7 juta.
Kondisi itu membuat proses pengobatan Neng Heti menjadi semakin berat. Bahkan, sekitar satu bulan lalu, ia telah menjalani pemeriksaan laboratorium di RS Sidawangi. Namun, menurut keterangan keluarga, hasil pemeriksaan tersebut belum dapat diterima karena persoalan tunggakan kepesertaan BPJS.
Yang lebih memprihatinkan, Neng Heti sebenarnya sempat mendapatkan penjadwalan untuk menjalani tindakan operasi. Namun, tindakan tersebut akhirnya tidak terlaksana lantaran persoalan administrasi kepesertaan BPJS.
Bagi keluarga kecil ini, biaya pengobatan melalui jalur umum bukan perkara mudah. Jika harus menggunakan fasilitas kesehatan tanpa menanggung melalui BPJS, keluarga memperkirakan membutuhkan biaya hingga sekitar Rp15 juta.
Sementara itu, Gugun sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek online dengan menggunakan kendaraan milik temannya. Dari pekerjaan tersebut, ia harus menyetorkan sekitar Rp500 ribu setiap pekan.
Dengan kondisi ekonomi seperti itu, membayar tunggakan sekaligus membiayai pengobatan kanker menjadi beban yang nyaris berada di luar kemampuan keluarga.
MPK Turun Langsung, Lakukan Screening dan Telusuri Kebutuhan Pasien
Kondisi Neng Heti kemudian mendapat perhatian dari Masyarakat Peduli Kuningan (MPK).
Founder MPK, Yusuf Dandi Asih, bersama tim melakukan kunjungan langsung ke kediaman keluarga tersebut. Kunjungan tidak sekadar menjadi agenda sosial, tetapi juga dilakukan untuk screening awal dan tracking kondisi pasien, termasuk menelusuri sejauh mana kebutuhan yang dapat dibantu oleh MPK.
Dalam kunjungan tersebut, MPK menggali informasi mengenai kondisi kesehatan pasien, riwayat pengobatan, kendala administrasi, kondisi ekonomi keluarga hingga kebutuhan penanganan lanjutan.
Langkah tersebut menjadi penting agar bantuan yang diberikan tidak berhenti pada persoalan santunan, tetapi dapat diarahkan pada kebutuhan yang paling mendesak—terutama akses terhadap layanan kesehatan dan tindakan medis yang dibutuhkan pasien.
Di rumah sederhana itu, perjuangan Neng Heti bukan hanya tentang melawan penyakit.
Ia juga harus berhadapan dengan persoalan biaya, administrasi jaminan kesehatan, serta keterbatasan ekonomi keluarga.
Sementara di sisi lain, seorang anak laki-laki berusia empat tahun masih membutuhkan kehadiran kedua orang tuanya.
Harapan Sederhana: Bisa Kembali Berobat dan Menjalani Operasi
Di tengah situasi tersebut, keluarga berharap ada perhatian dan intervensi dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar persoalan yang menghambat pengobatan dapat segera dicarikan solusi.
“Harapannya segera bisa operasi dan diangkat penyakitnya. Berharap pemerintah daerah bisa membantu,” demikian harapan keluarga.
Kasus Neng Heti menjadi potret bahwa persoalan kesehatan masyarakat tidak selalu berhenti pada ada atau tidaknya fasilitas kesehatan. Akses, kepesertaan jaminan kesehatan, kemampuan ekonomi, hingga pendampingan administratif dapat menjadi mata rantai yang menentukan apakah seorang pasien bisa mendapatkan pengobatan tepat waktu atau justru harus kembali menunggu.
Kini, keluarga Gugun hanya berharap satu hal: jalan pengobatan Neng Heti kembali terbuka, sebelum kondisi penyakitnya semakin memburuk. (red)
