Tumor Makin Membesar, Dian Kesulitan Bernapas: MPK Minta Pemerintah Turun Tangan
KUNINGAN — Di balik hiruk-pikuk aktivitas masyarakat Kabupaten Kuningan, sebuah keluarga di Lingkungan Karanganyar, Kelurahan Winduhaji, Kecamatan Kuningan, tengah berjuang menghadapi ujian berat.
Adalah Dian Apriyanto (44), warga setempat, yang kini terbaring lemah setelah harus menjalani perjuangan panjang melawan penyakit kanker lidah yang telah memasuki stadium lanjut.
Kondisinya kini semakin memprihatinkan. Tumor yang membesar membuat Dian kesulitan makan, minum hingga tidur. Bahkan, menurut keluarga, gangguan pernapasan mulai dirasakan akibat tekanan tumor di area leher.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Masyarakat Peduli Kuningan (MPK) setelah menerima aduan dari keluarga pasien.
Di bawah Founder MPK, Yusup Dandi Asih, bersama tim, MPK langsung mendatangi kediaman Dian untuk melihat kondisi pasien sekaligus mendengar langsung keluhan dan kebutuhan keluarga.
Berawal dari Sariawan yang Tak Kunjung Sembuh
Perjuangan Dian menghadapi penyakit tersebut bermula dari keluhan yang pada awalnya terlihat sederhana.
Menurut keterangan keluarga, sariawan pada bagian lidah mulai dialami sejak Idul Adha 2024. Sariawan tersebut diduga berawal dari gesekan dengan sisa gigi yang patah.
Namun, kondisi itu tidak segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Baru pada Februari 2025, keluarga membawa Dian ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Dari pemeriksaan dokter umum, Dian kemudian dirujuk ke dokter gigi dan selanjutnya ke dokter spesialis bedah mulut dan gigi.
Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan biopsi.
Pada Februari 2025, biopsi lidah dilakukan di Klinik Salsa. Saat itu, hasil pemeriksaan disebut tidak menunjukkan adanya keganasan. Keluarga pun sempat merasa lega.
Namun, perjalanan penyakit Dian ternyata belum berakhir.
Benjolan Muncul Saat Gigi Dicabut
Setelah kembali berkonsultasi dengan dokter bedah mulut dan gigi, keluarga menduga sariawan berkepanjangan berkaitan dengan kondisi gigi yang rusak.
Rencana pencabutan sisa gigi yang bermasalah pun dilakukan.
Namun, saat pencabutan gigi kedua, muncul benjolan di bawah telinga dengan ukuran yang disebut keluarga kira-kira sebesar telur puyuh.
Temuan tersebut kemudian membuat Dian kembali dirujuk kepada dokter bedah.
Saat itu, berdasarkan penuturan keluarga, dokter menduga benjolan tersebut berkaitan dengan kelenjar air liur dan menyarankan tindakan operasi.
Operasi kemudian dilakukan pada Maret 2025 di RS Juanda Kuningan.
Keluarga sempat berharap operasi tersebut menjadi akhir dari persoalan yang selama ini dihadapi.
Namun harapan itu kembali runtuh.
Sekitar satu minggu setelah operasi, benjolan di leher justru kembali membengkak dan semakin membesar.
Keluarga kemudian kembali berkonsultasi dengan dokter. Dari hasil pemeriksaan terhadap benjolan tersebut, keluarga mendapat informasi bahwa terdapat keganasan pada jaringan benjolan, yang diduga merupakan penyebaran dari sumber kanker lain.
Dian kemudian dirujuk ke RS Mitra Plumbon Cirebon untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Dari CT Scan, Tumor Primer Ditemukan di Lidah
Di RS Mitra Plumbon, Dian menjalani pemeriksaan oleh dokter bedah onkologi, termasuk CT scan untuk mencari sumber utama kanker.
Hasil pemeriksaan, berdasarkan keterangan keluarga, menunjukkan bahwa tumor primer berasal dari lidah, dengan penyebaran ke kelenjar getah bening di leher.
Kondisi tersebut kemudian dinyatakan sebagai kanker lidah stadium lanjut oleh dokter yang menangani.
Karena ukuran tumor sudah besar dan kondisi dinilai tidak memungkinkan untuk langsung dilakukan operasi, dokter kemudian menyarankan kemoterapi dengan tujuan mengecilkan tumor terlebih dahulu.
Dian menjalani kemoterapi sebanyak tiga siklus menggunakan regimen FU dan Carboplatin, dengan jeda sekitar tiga minggu setiap siklus.
Namun, evaluasi setelah tiga kali kemoterapi justru menunjukkan kondisi yang tidak diharapkan.
Tumor tidak mengecil, bahkan menurut keluarga justru semakin membesar.
Dokter kemudian mengganti regimen kemoterapi dan merencanakan kombinasi dengan terapi radiasi.
Persoalan baru muncul ketika keluarga harus menghadapi antrean pelayanan yang cukup panjang karena pengobatan menggunakan BPJS.
Menurut keterangan keluarga, mereka sempat mendapat informasi bahwa untuk tindakan lebih cepat diperlukan jalur umum. Namun, keterbatasan kemampuan ekonomi membuat keluarga memilih tetap mengikuti proses pengobatan melalui BPJS.
Kondisi Terus Menurun
Setelah menjalani kemoterapi dengan regimen baru, kondisi fisik Dian semakin menurun.
Ia mengalami muntah hebat, kesulitan menerima makanan, hingga berat badannya terus berkurang. Kondisi tersebut berlangsung hingga beberapa siklus pengobatan.
Dalam dua bulan terakhir, Dian bahkan disebut lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dan harus beberapa kali menjalani rawat inap maupun kontrol ke rumah sakit.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, keluarga berupaya memberikan susu dan asupan tambahan sesuai kemampuan.
Namun memasuki awal September 2026, kondisi Dian kembali memburuk hingga harus dilarikan ke IGD RS Mitra Plumbon Cirebon.
Kini, perjuangan Dian semakin berat.
Untuk makan dan minum saja sulit. Tidur pun terganggu. Bahkan bernapas mulai terasa berat karena tekanan tumor di area leher.
Bukan Hanya Soal Pengobatan, Keluarga Juga Terbebani Biaya
Meski pengobatan utama dijalani menggunakan BPJS, perjuangan keluarga tidak serta-merta bebas dari persoalan biaya.
Ada kebutuhan transportasi menuju rumah sakit, akomodasi, nutrisi, vitamin serta sejumlah obat dan pelayanan yang menurut keluarga tidak seluruhnya tercover BPJS.
Di sisi lain, sejak kondisi kesehatan Dian memburuk, ia sudah tidak dapat bekerja.
Sementara sang istri, Iis Istianah (38), harus mendampingi dan merawat suaminya.
Situasi tersebut membuat kondisi ekonomi keluarga semakin tertekan.
Tabungan yang sebelumnya menjadi penyangga kebutuhan rumah tangga perlahan terkuras untuk menopang perjuangan pengobatan Dian.
MPK Ketuk Pintu Pemerintah Daerah
Melihat kondisi tersebut, MPK tidak berhenti pada kunjungan dan pendampingan kepada keluarga.
MPK kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kuningan untuk mendorong adanya perhatian dan langkah konkret terhadap kondisi Dian.
Respons positif datang dari Ketua LKKS Kabupaten Kuningan, Hj. Ella, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kuningan.
Hj. Ella, menurut MPK, merespons baik laporan tersebut dan segera mengagendakan kunjungan untuk melihat langsung kondisi Dian dan keluarganya.
Respons serupa juga datang dari Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan, yang langsung menyatakan akan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan serta instansi terkait.
Langkah tersebut diharapkan tidak berhenti pada kunjungan maupun koordinasi administratif semata.
Sebab bagi keluarga Dian, yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar perhatian, melainkan jalan keluar nyata di tengah kondisi pasien yang terus memburuk.
MPK pun berharap pemerintah daerah dapat memastikan Dian memperoleh akses penanganan kesehatan secara optimal, termasuk memastikan kebutuhan medis dan nonmedis yang mendesak dapat dicarikan solusinya sesuai ketentuan yang berlaku.
Di tengah kondisi Dian yang semakin lemah, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Satu keluarga kini tengah bertahan. Dan di balik pintu sebuah rumah sederhana di Winduhaji, ada seorang suami yang sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup, sementara istrinya berusaha sekuat tenaga menjaga harapan. (han)

